‘Kamu lebih suka sunrise atau sunset?’
‘Aku lebih suka sunset’
‘Kenapa?’
‘Aku bukan morning person, dan jelas ajah warna sunset tuh bagus banget kalo lagi bagus, tapi aku suka banget sih ketiup-tiup angin pagi kalo berangkat kerja rasanya seger banget, sunrise emang menyenangkan, tapi kalo disuruh pilih aku lebih suka sunset jauh’
‘Aku tahu alasannya, karena sunset menggambarkan satu hari yang melelahkan sudah dilalui, dan saatnya pulang untuk istirahat. Kalo aku lebih suka sunrise, karena hari baru akan dimulai, satu hari yang bisa kita lakuin banyak hal yang mau kita lakuin, yang kemarin ga sempet kita lakuin mungkin, dan sunrise artinya kehidupan baru dimulai lagi’
Pikirku jelas ajah kamu suka sunrise soalnya anaknya kaya 24jam satu hari ajah tuh kurang alias pekerja keras.
*ternyata pertanyaannya beliau terinspirasi dari novel yang beliau paksa-paksa saya buat baca.
Novel favorit beliau tapi jadi yang sangat saya tidak sukai.
Sampailah saya pada kalimat terakhir bab terakhir novel itu.
Lucunya kami bertengkar namun sambil terbahak, ternyata beliau sengaja menunggu saya menyelesaikan bacaan sambil menunggu dan melihat bagaimana reaksi saya.
Saya marah karena saya bilang dari awal saya sudah tahu akhir ceritanya dan tidak mau membaca karena tidak suka cerita yang seperti itu, tapi saat itu beliau kasih banyak sekali spoiler-spoiler palsu yang membuat saya penasaran dan terus saja melanjutkan membaca sebab jadi ingin tahu.
Sampai akhirnya kami benar-benar terbahak satu sama lain walaupun hanya lewat video call.
Dia merasa menang membohongi saya, saya merasa sial sekali tahu akhir ceritanya yang begini.
Tapi lucu sekali rasanya saat itu, dibohongi tapi terasa menyenangkan sekaligus kesal sekali.
Manusia yang paling serius sekaligus banyak bercandanya.
Saya rindu.
Aku ingin banyak cerita tentang bagaimana hari ini.
Dan mendengarkan bagaimana harimu hari ini.
Dubai
27 juni 2022
11:59 pm
No comments:
Post a Comment