Saya selalu lambat tahu.
Saya menjadi si selalu lambat sadar.
Malam ketika lelahnya.
Profil kamu yang suka saya lihat berkali-kali.
Ternyata hari itu belum saya lihat sama sekali setelah terakhir ada pesan singkat darimu.
Pesan singkat yang menggambarkan bagaimana dirimu selama ini.
Pesan singkat yang membuat saya selalu menyayangi kamu.
Saya menunggu pesan-pesan saya menjadi ceklis 2 setidaknya, menjadi ceklis 2 biru itu serterah padamu nanti, karena ceklis abu satu, sudah menjadi pemandangan biasa yang tidak mengenakan hati saya di roomchat kita.
Lalu tiba malam hari, dimana saya bisa beristirahat dengan ponsel di tangan.
Yang saya cek pertama kali, selalu dan selalu adalah roomchat kamu.
Pesan-pesan saya masih juga ceklis 1 abu.
Kali ini saya ada waktu untuk melihat lagi profilmu.
Ketika saya klik fotomu, *tingggg, hilang.
Haha hilang.
Saya cek ponsel saya satu lagi, dan ya profilmu juga masih ada, tapi ketika saya klik, hilang lagi, hilang juga.
Haha sialan, kenapa whatsapp sekarang profilnya tidak langsung hilang ketika kita di block.
Lambat sadar.
Saya capek sekali berjarak jauh dengan orang-orang yang saya cinta.
*Tapi setidaknya memandang langit yang masih satu dalam belahan dunia manapun, membuat saya merasa selalu dekat.
Kita masih dibawah langit yang sama bukan.
Hanya pemandangannya saja yang berbeda, hanya pemandangannya.
--
Saya baca pesan singkatmu berkali-kali, mencoba memahami makna dan artinya lebih dalam, mencoba mengerti dari sisi yang kamu alami.
Ya, seharusnya saya sadar tanpa harus memasuki bagaimana sudut pandangmu.
Hanya, saya saja yang terlalu serakah dan besar ego, hingga semuanya membuat saya tidak sadar.
Ternyata cinta semelelahkan itu.
Saya, saya sebanyak itu membuatmu menderita.
--
Harus saya artikan bagaimana perpisahan kali ini.
Perpisahan dengan kata-kata meyakinkan, namun atas keputusasaan, dan ketidakberdayaan hati.
Terlebih lagi cerita saat ini sangat berbeda dengan cerita-cerita 2 tahun sebelumnya.
Kamu merasa lelah, saya merasa pasrah.
Selebihnya saya hanya merasa tidak layak.
Atas semua hal-hal jahat yang pernah saya lalukan.
Maafkan saya ya kalau selama ini jadi figur yang menyakitkan di hati dan fikiranmu.
--
Atau hanya kita yang mungkin diciptakan tidak untuk satu sama lain.
Haruskah kita menyerah untuk mencintai.
Mungkin hatimu akan menjadi terasa lebih ringan.
--
Bahkan kelak bila rasamu sudah hilang.
Bolehkah aku datang sebagai temanmu.
Boleh ya, bolehkan, pasti boleh dong.
--
Legalah sekarang.
Hiruplah nafasmu tanpa ada embel-embel rasa lelah.
Leluasalah kamu.
--
Aku menyayangimu.
Dubai
2 nov 2022
12:03 pm
No comments:
Post a Comment