Kini aku benar-benar tidak bisa bertatapan denganmu, sungguh kau tak mengenalku, aku tau kau sangat membenciku, tapi sungguh kau tidak mengetahui aku yang sebenarnya, aku sama sekali tidak membencimu.
Kau sangat membenciku? Sungguh aku benar-benar ingin mengetahuinnya, hingga aku hanya bisa menjerit dalam diamku, sebab apa kau membenci diriku, apa yang membuatku tidak pantas menjadi seseorang yang setidaknya tidak kau usik kehidupannya, kenapa kau melakukakan hal ini kepadaku, setahuku aku tidak pernah benar-benar dekat denganmu apalagi untuk menyakiti dirimu (aku tidak pernah), lalu apa kesalahanku(?) hingga kau rasanya selalu saja membuat dadaku sesak?
Apa karna sifatku yang terlalu kaku? Firasatku memang ini yang membuatmu leluasa membullyku, rasanya kau memang bukan orang yang 'baik' aku berkata seperti ini, itu bukan berarti aku membencimu karena aku bukan pendendam, itu bukan berarti aku adalah seorang suci, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja kau dalam jalurmu dan aku tetap dalam arahku, aku telah menyadari sifatmu yang buruk. Bilapun aku tidak bisa mengenal ataupun berteman denganmu itu tidak apa itu tidak menjadi masalah sama sekali bagiku karena aku tidak akan bahkan sama sekali tidak merasa rugi bahkan untuk tidak mengenalmupun itu sama sekali bukan menjadi masalah bagiku, tapi yang kuminta hanya jangan ganggu aku, itu saja cukup. apa? Apa yang selalu membuatmu termotivasi untuk melakukan hal ini padaku? Apa hanya karna aku jutek dan terlihat sinis hingga feelingku berkata bahwa kau tersinggung tentang ini, sungguh kau hanya tidak benar-benar mengenalku, kau hanya mengetahui sisi luarku tidak dengan perasaanku.
Kini kau telah menyerangku, kau menusuk tepat di bagian rapuhku, kau benar-benar membuatku sulit untuk bernafas, bahkan tersesak-sesak saat menangis, sungguh ini terasa sangat menyedihkan sangat menyakitkan, rasanya ini yang paling sakit.
Itu tidak merubah diriku untuk menjadi pembencimu, aku tetap seperti diriku.
Sesuatu cerita yang bisa menggambarkan prasaanku padamu adalah....
Ketika seseorang memberiku tanaman untuk kurawat, namun yang kuinginkan adalah seekor anak binatang, karena tanaman itu pemberian itu sebabnya aku tetap menerimanya untuk menghargai pemberinya, tapi sungguh tiada hati untuk mengurusnya.
Hingga saat aku menelantarkannnya dan membiarkannya begitu saja, dan datang seorang temanku meminta untuk dapat merawat tanaman pemberian itu, karena jenuh, aku hanya mengiyakan, aku tidak peduli jika ditangannya tanaman itu bisa tumbuh subur dan sehat ataupun akan mati juga ditangan temanku, aku tidak akan menangisinya, aku tidak peduli sama sekali dengan tanaman itu bagaimanapun cerita akhirnya.
No comments:
Post a Comment