Walau saat ini tak ada lagi rasa untuk memilikimu lagi, tak ada rasa cinta yang dulu pernah bersemi, tak ada lagi rasa selalu ingin bersama dekat denganmu lagi disetiap saat, namun sekarang hanya ada rasa senang saat melihatmu.
Tapi melihatmu hanya membuatku senang saja tidak lebih, entah apa yang membuatku senang tapi rasa ini sangat menenangkan dan kubiarkan rasa ini.
Memang kadang terfikir dulu bagaimana pengerbonanmu saat mengejarku, mendekatiku, dan berusaha untuk memilikiku.
Memang kadang terfikir dulu saat saat dimana kamu rela meluangkan waktumu, menunggu suntuk berjam-jam untukku, menemaniku, berjalan jauh sekali bersama-sama, makan pedaas dan melihat lucu kebiasaan unikmu ketika makan pedas, mengobrol sepanjang perjalanan pulang, dan masih banyak lagi hal yang kita lakukan bersama, sampai.... Sampai saat pada waktu kita tak lagi menghabiskan waktu untuk mengobrol saat di perjalanan pulang dan hal-hal lainnya dengan senang dan saat-saat itu terasa sangat beku.
Memang kadang terfikir saat dimana bodohnya diriku yang selalu saja menyia-nyiakan orang yang ada disampingku dan bersamaku.
Namun dulu aku pernah merasa menyesal karna pernah menjalin hubungan denganmu, dari awal memang aku tak bisa merasakan benih cinta yang kau tanam karna ada orang lain, namun aku tetap mencoba untuk merawat dan menyiramnya hingga tumbuh sebuah batang kemudian tumbuh pula sebuah pucuk kecil yang membuatnya terlihat indah dan sangat lucu, dan pertumbuhan itu membuatku ingin sungguh sungguh merawatnya dan aku mulai bisa melupakan orang lain itu.
Disinilah saat-saat aku sangat senang bersamamu, walau terkadang orang itu memasuki pikiranku lagi namun kamu mendorongnya keluar dari pikiranku, karna kamu tau sebelum aku menyukaimu orang itu lebih dulu menyukaiku, yang kamu tidak tahu adalah bahwa sebenarnya aku juga menyukainya dibanding dirimu.
Orang lain itu sudah hampir hilang dalam pikiranku.
Tapi sayangnya lamakelamaan aku mulai merasa bosan untuk merawat pohon kecil kita entah mengapa? mungkin memang ini karna sifatku yang tak bisa menghargai, aku mulai kehabisan pupuk dan air untuk membuatnya untuk tetap hidup, sangat bosan dan suntuk rasanya untuk merawan pohon kecil kita lagi, hingga ingin sekali rasanya ku injak pohon kecil itu dengan kakiku, ku injak dan ku ules-ules ditanah, ingin sekali aku untuk melakukan itu, tapi aku tak bisa melakukan itu, karena aku yang sudah memutuskan memulai untuk merawatnya diawal, sekarang aku mulai membiarkannya saja, pohon kecil itu mulai hidup tanpa siraman dan rawatanku, ku biarkan ia perlahan melayu begitu saja.
Namun tiba-tiba kau mencabut pohon kecil itu dengan se-enaknya dan mulai membuangnya ketanah lalu kau gilas dengan langkah kepergianmu.
Itulah yang membuatku menyesal, mengapa kau malah mencabut begitu saja pohon kecil itu, pohon kecilku, oh tidak pohon kecil kita, yang setidaknya dulu pernah kurawat, mengapa bukan dari awal aku saja yang mengilasnya dengan kakiku sendiri!, mengapa bukan aku saja yang sedari dulu membunuhnya lalu ku ilas dengan kakiku, mengapa aku membiarkannya perlahan melayu? seharusnya aku sudah menginjaknya dari dulu, mengapa kau tidak mencoba untuk menyiramnya memberinya pupuk, memberikan sepercik air kehidupan dan merawatnya kembali, hingga ia akan tumbuh subur lagi dan sehat kembali? Mengapa kamu melakukan itu, ituu... itu pohonku.
Tidak ingatkah kau saat kau memberiku benih itu, tidak ingatkah kau saat mengejarku, tidak ingatkah kau kita mempunyai kenangan bersama saat merawat benih ini hingga benjadi bibit dan pohon kecil.
Tapi kubiarkan saja kematian pohon kecilku itu, aku membiarkanmu pergi tanpa pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali aku pertanyakan, namun hanya tersimpan dalam benakku? Toh aku juga sudah lelah untuk merawatnya memang seharusnya pohon itu mati saja.
Aku terlalu sibuk dengan perasaan ini!, hingga sepertinya aku sudah melupakan orang lain itu.
Sekarang yang benar-benar jelas adalah aku hanya merasa senang melihatmu, namun masih tersisa goresan luka dihati.
Senang melihatmu.
Senang bisa melihat nya tersenyum dan bahagia :)
ReplyDelete