Saya tidak perduli apa yang orang katakan tentang seseorang yang saya belum kenal, dan saya tidak mengecap dia seperti apa yang dikatakan teman2 saya sekalipun teman saya memaksa sekali agar saya mempercayainya.
Saya hanya ingin mengenal seseorang seperti yang saya ketahui sendiri tentang dia.
Saya tidak menilai seseorang dari penampilannya, saya tidak melihat penampilan luar dari seseorang lalu menilai dengan apa yang saya baru lihat barusan.
Saya lebih terdahulu melihat kesan pertama yang ia berikan, saya rasa kesan pertama sangat penting dalam penilaian saya, dan saya rasa itu hal yang baik dari diri saya dan cukup untuk menilai seseorang, jika dia memberikan kesan buruk saya akan langsung memberikan nilai buruk untuknya.
Namun ternyata saya harus mulai meralat jika cara berfikir saya itu belum cukup baik, saya belum mengenalnya tapi saya baru saja menilainnya hanya dengan melihat apa yang barusan sekali ia lakukan, ternyata tidak menilainya dari omongan orang itu belum cukup, ternyata tidak menilai seseorang dari penampilannya itu belum juga cukup, ternyata menilainnya dari kesan pertama yang saya lihat itu belum cukup juga.
Saya akan terfokus dan membahas pada mindset seseorang yang selalu berfikiran negative terhadap orang yang belum ia kenal betul siapa dia.
Saya cendrung berfikiran negative tentang seseorang karena apa yang barusan saya lihat, karena perilaku tidak sesuai dengan apa yang saya anggap benar, namun bisa saja saat kita melihatnya barusan itu bukanlah hal yang selalu ia lakukan, bisa saja dia bahkan baru pertamakali melakukan hal buruk itu dan menyesalinya, bisa saja biasanya dia selalu melakukan hal yang baik yang kita tidak pernah tau, atau mungkin bahkan suatu hal yang lebih baik dari apa yang biasanya kita lakukan.
Tadinya jika ada seseorang yang saya anggap sikapnya buruk karena kesan-kesan pertama yang saya lihat dari dirinya, saya tidak mau berteman dengannya, saya tidak mau barang kali menyapanya lalu lamakelamaan menjadi sering dan berteman, saya menjaga jarak agar saya tidak dekat dengannya, ternyata saya salah, ketika ada kesempatan yang berjalan begitu saja seperti air akhirnya kami saling mengenal, masih terasa ilfill pada dirinya, namun lama-kelamaan saya mengetahui saya memiliki itensitas bersamanya, saya mulai mengenalnya dan ternyata dia memiliki sisi pribadi yang baik dan menyenangkan, saya mulai berteman dengannya, saya mulai menyukainya, walaupun memang terkadang dia memiliki sifat yang saya anggap buruk dan sangat saya tidak sukai, dan terkadang dalam pertemanan kami sifat buruknya sering muncul dan membuat rasa ilfill saya tentang dirinya timbul lagi, tapi sekarang saya bukan malah menjauhinya atau mencoba menjauhinya, tapi saya mulai mencoba untuk meredam rasa ini, saya berfikir jika saya selalu menuruti ego ini mungkin ini akan buruk untuk saya sendiri juga, saya mulai belajar untuk menerima sifat buruk orang lain, karena saya berkaca bahwa sayapun pasti memiliki sifat yang buruk yang saya tidak sadari ataupun saya sadari dan susah untuk merubahnya, saya juga berfikir semua orang punya kekurangan termasuk saya, jika juga semua orang tidak bisa menerima kekurangan orang lain jadilah mereka hanya akan hidup sendiri-sendiri dan atau jikapun bersama pasti penuh dengan ke naifan, jika saya tidak bisa untuk menerima kekurangan orang lain mungkin saya akan selamanya menyendiri, saya mulai memindset fikiran saya tidak ada manusia yang sempurna, sekarang disinilah kekurangannya dan disanalah letak kelebihannya.